Faktor perilaku menyimpang

Faktor Perilaku menyimpang

Tindak kekerasan adalah perilaku menyimpang. Kekerasan secara fisik merupakan jenis penyimpangan yang mudah sekali terjadi. Penyimpangan ini bisa jadi berupa sebuah pukulan, tamparan, gigitan, melempar, dan aksi lainnya yang bisa menyebabkan luka fisik, meninggalkan bekas, dan menyebabkan rasa sakit yang sangat.

Kekerasan emosional bisa menjadi hal yang sulit dikenali, karena tidak ada tanda-tanda fisik. Kekerasan emosional terjadi saat berteriak dan marah yang berlebihan atau saat orang tua secara langsung mengkritik, mengecam, atau membuat takut anak atau remaja hingga menyebabkan rasa percaya diri dan penghargaan diri si anak rusak.

Kekerasan emosional ini dapat menimbulkan luka dan menyebabkan kerusakan seperti pada kekerasan fisik. Menelantarkan bisa jadi tipe kekerasan yang paling berat. Penelantaran muncul ketika seorang anak atau remaja tidak memiliki cukup makanan, tempat berlindung, pakaian, perawatan kesehatan, atau pengawasan. Penelantaran emosi terjadi saat orang tua tidak cukup menyediakan dukungan emosi atau sederhananya hanya sedikit meluangkan waktu bagi si anak. Tapi, penelantaran ini tidak termasuk orang tua yang tidak memenuhi keinginan si anak yang meminta komputer atau telepon seluler.

Kekerasan dalam rumah tangga dapat berdampak pada siapa saja. Ini bisa terjadi pada segala jenis keluarga. Terkadang orang tua saling menyimpang satu dengan lainnya dan menjadi hal yang sulit ketika dilakukan di depan anak. Beberapa orang tua melakukan kekerasan terhadap anak baik secara fisik maupun kata-kata kasar dengan dalih melatih disiplin.

Kekerasan tidak hanya terjadi di dalam rumah. Membuat kesal adalah sejenis tindakan kekerasan. Membuat kesal seseorang melalui intimidasi, pembedaan perlakuan, atau mempermalukan di depan orang banyak bisa disebut kekerasan, seperti halnya memukul orang lain. Orang yang membuat kesal orang lain sama saja melakukan kekerasan pada dirinya sendiri.

Bisa Diperbaiki

Kekerasan bisa saja berbentuk dari rasa benci antarsesama, karena adanya perbedaan ras, agama, kemampuan, gender atau orientasi seksual. Mungkin terdengar sedikit aneh, tetapi beberapa orang kesulitan untuk mengenali bahwa mereka sudah menjadi korban perilaku menyimpang. Menyadari adanya penyimpangan sulit disadari bagi orang yang telah tahunan hidup dengan penyimpangan ini. Jika kamu tidak yakin telah diperlakukan menyimpang atau kamu mencurigai temanmu yang berbuat itu, cobalah bertanya pada orang dewasa atau seseorang yang kamu percaya.

Harus dipahami tidak ada alasan satu pun yang membolehkan orang berbuat menyimpang pada orang lain. Tetapi, beberapa faktor menyebabkan seseorang menjadi cenderung berperilaku menyimpang. Tumbuh besar di keluarga yang berperilaku menyimpang adalah salah satu faktor pendorong seseorang berperilaku menyimpang. Sementara, yang lain menjadi berperilaku menyimpang karena mereka tidak mampu mengatur perasaan mereka sendiri.

Sebagai contoh, seseorang yang tak mampu mengontrol rasa marah atau tidak mampu mengatasi situasi stres yang dihadapinya (seperti diputus pacar, tak lulus sekolah) bisa bersikap lepas kontrol pada orang lain tanpa terkendali. Tapi, perilaku menyimpang ini bisa diatasi. Setiap orang bisa belajar untuk menghentikannya. Karena perilaku menyimpang itu memberikan pengaruh. Remaja yang mendapatkan perilaku menyimpang sering sekali mendapatkan masalah tidur, makanan, dan konsentrasi. Remaja ini tidak mampu belajar dengan baik di sekolah, karena mereka marah dan ketakutan. Mereka tidak bisa konsentrasi dan tidak peduli. Karena itu, jika kamu merasa diperlakukan menyimpang, bicaralah kepada teman yang dipercaya atau kepada guru, dokter atau penasehat keagamaan di sekolah.

C.  SEBAB-SEBAB “ABG” BERMASALAH

Sebelum mambahas masalah-masalah yang menjadi penyebab terjadinya anak remaja bermasalah, akan lebih baik kalau kita bahas  terlebih dahulu tentang pengertian anak remaja bermasalah. Pengertian anak remaja bermasalah dalam makalah ini ada dua muatan yaitu :

1. Anak remaja bermasalah berarti anak remaja  yang sedang memiliki/menghadapi masalah dalam dirinya. Contohnya adalah remaja menghadapi masalah pacar, hambatan gagal dalam studi, tidak diterima lagi oleh kelompoknya, konflik dengan orang tua dan sebagainya.

2. Anak remaja bermasalah berarti anak remaja yang menimbulkan masalah terhadap orang/pihak lain. Pengertian kedua ini pada dasarnya searti dengan anak remaja yang berperilaku menyimpang atau yang lebih dikenal dengan kenakalan remaja, seperti tawuran, penyalahgunaan NARKOBA, minum-minuman keras, melakukan tindakan yang mengganggu lingkungan dan sebagainya.

Kalau ada anak remaja bermasalah berarti pada proses tumbuh kembangnya, anak remaja tersebut sedang mengalami gangguan sekaligus telah terjadi sesuatu yang salah dalam pembentukan jati dirinya. Beberapa faktor yang menyebabkan anak remaja bermasalah antara lain :

1. Keluarga yang gagal dalam melaksanakan fungsinya (disfungsional keluarga).

Setiap pria dan wanita yang menikah menjadi pasangan suami istri pasti mempunyai cita-cita dan tujuan untuk membangun keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera. Meskipun ketika pacaran biasanya dipenuhi dengan basa basi, kepura-puraan bahkan penipuan (saling membohongi), namun ketika sampai masalah tujuan berkeluarga maka tidak ada pasangan suami istri yang berani basa basi. Hanya pasangan yang gilalah yang berani basa basi dalam hal tujuan menikah dan berkeluarga. Meskipun demikian dalam kenyataannya banyak pasangan suami istri yang gagal mewujudkan keinginannya untuk membangun keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera (sakinah, mawaddah dan rahmah) yang disebabkan oleh tidak adanya saling pengertian, saling memahami dan menyesuaikan, penyelewengan dan sebagainya. Keluarga memiliki fungsi sebagai tempat pembentukan kepribadian anak remaja yang pertama, sehingga keluarga memegang peranan utama dalam proses perkembangan anak. Lingkungan yang pertama yang memberikan pengaruh mendalam adalah lingkungan keluarga. Dari anggota keluarga yaitu ayah, ibu dan saudara-saudara sekandungnya anak akan memperoleh segala kemampuan dasar baik intelektual, moral maupun sosial. Keluarga adalah tempat identifikasi diri, pengembangan kepribadian, pengembangan potensi, sumber kekecewaan sekaligus kebahagiaan, sumber ketidakpuasan sekaligus kepuasan, sumber kecemasan sekaligus kedamaian. Kalau satu keluarga tidak berhasil/gagal dalam mewujudkan fungsinya maka dapat menyebabkan anak remaja tidak betah dirumah, kehilangan kepercayaan terhadap orang tua dan lebih percaya terhadap orang lain, mencari tempat pelarian di luar rumah bahkan remaja menganggap rumahnya bagaikan neraka. Apakah anda menginginkan anak-anak anda terbakar oleh api yang anda ciptakan sendiri ? Kehilangan keharmonisan dalam keluarga akan memiliki pengaruh destruktif sekaligus sebagai hal yang membingungkan, sebab mereka kehilangan tempat berpijak dan pegangan hidup.

2.  Komunikasi orang tua dan anak yang tidak sehat.

Seorang gadis 15 tahun, sesudah konseling dengan seorang psikolog, sebelum keluar rumah gadis itu berhenti sebentar dan berkata : “Alangkah senangnya dapat mengungkapkan perasaan saya yang sesungguhnya kepada sseorang. Belum pernah saya ceritakan hal-hal ini kepada orang lain sebelumnya, saya tidak akan berbicara seperti ini dengan orang tua saya”. Contoh ini merupakan contoh yang umum bagaimana anak menarik diri dari orang tuanya dan segan mengungkapkan perasaan-perasaannya. Gadis tersebut mungkin telah belajar dari pengalaman dan mengambil kesimpulan bahwa berkomunikasi dengan orang tua tidaklah menolong malah sering membuat tidak aman. Akibatnya banyak orang tua kehilangan beribu-ribu kesempatan untuk menolong anak-anaknya yang menghadapi masalah hidupnya. Mengapa begitu banyak orang tua yang oleh anak-anaknya tidak dianggap sebagai sumber pertolongan ? Mengapa anak-anak tidak lagi berbicara / berkomunikasi dengan orang tua tentang masalah-masalah yang mereka hadapi ? Suatu keluarga kadang-kadang hanya berfungsi sebagai “terminal”  yaitu sebagai tempat pemberhentian sementara. Antara suami dan istri, antara anak dan orang tua, dan antar anak sering tidak terjadi kemunikasi dan dialog yang sungguh-sungguh. Kalaupun ada hanya sekedar basa basi, tidak ada kesempatan untuk saling bertanya tentang masalah pribadi, tidak ada upaya saling belajar dan peduli. Masing-masing hanya memikirkan tujuan kepentingan dan keuntungan sendiri-sendiri. Bahkan suatu keluarga kondisinya dapat kebih buruk bila dibandingkan dengan terminal. Sejelek-jeleknya terminal biasanya setiap kendaraan sudah memiliki jalur dan tujuan yang jelas dan disepakati bersama, akan tetapi dapat terjadi suatu keluarga berjalan tanpa memiliki arah dan tujuan yang jelas, bahkan tidak memiliki kesepakatan apapun sebagai hasil komunikasi/musyawarah. Masing-masing anggota keluarga atau rumahnya sebagai tempat makan, tidur, mandi dan sebagai toilet.
Di Jakarta dan kota lain yang penuh dengan kesibukan kerja dan kemacetan, barbagai kemungkinan tersebut sangat mudah terjadi. Banyak orang tua yang pikiran dan tenaganya terkuras habis di atas kendaraan yang macet dan kerja di kantor yang menyebalkan / bikin stress. Akibatnya pada saat pulang kerja, pikiran jiwa dan fisiknya sudah loyo dan tidak kuat. Dalam kondisi seperti ini biasanya seseorang malas untuk berkomunikasi dengan orang lain atau berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Sebuah keluarga yang anggotanya (khususnya antara orang tua dan anak) tidak sering berkomunikasi, atau ada komunikasi tapi bersifat otoriter dan tidak dialogis akan mengakibatkan munculnya suasana keluarga yang tidak sejuk, bahkan akan muncul suasana yang gersang dan panas. Seorang anak remaja akan sulit tumbuh berkembang menjadi anak yang sehat bila tidak ada komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak.

3.  Perlakuan pengasuhan dan cara mendidik anak yang kurang tepat.

Seorang anak yang kecewa pada kedua orang tuanya berkata dalam suatu konsultasi “Mereka seringkali mengatakan betapa buruknya saya dan betapa bodohnya gagasan-gagasan saya, dan betapa saya tidak dapat dipercaya dan bahwa saya banyak melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai. Bila mereka menganggap saya buruk dan bodoh, lebih baik saya terus melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai”. Apa yang dikatakan oleh anak remaja tersebut mengingatkan kita pada pepatah kuno, “Katakan pada anak bahwa ia buruk, maka ia benar-benar akan menjadi buruk”. Memang anak-anak sering menjadi apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Dalam budaya Jawa ada ungkapan “ojo nyepatani anak”. Ungkapan-ungkapan yang tidak mendidik kadang-kadang keluar tanpa disengaja. Hal ini biasanya terjadi karena orang tuanya sedang kesal oleh berbagai masalah keluarga dan pekerjaan namun anak tidak tahu atau tidak mau tahu.
Beberapa perlakuan orang tua yang kurang tepat / tidak dewasa antara lain :

a. Sangat melindungi dan memanjakan anak (over proteksi atau sebaliknya).

b. Hanya memberikan kepuasan lahiriah / materi saja dalam usaha mempengaruhi dan mendidik anak-anak dan kurang memberi kepuasan dan kehangatan batiniah.

c. Sangat menguasai anak secara autokratis dan memperlakukan anak dengan keras.

d. Memperlihatkan kekhawatiran tentang masa depan secara demonstratif dihadapan anak-anak.

Ada orang tua yang mempunyai anggapan dan sikap yang menginginkan agar anaknya tidak kesulitan atau susah, sikap ini timbul mungkin disebabkan oleh pengalaman pahit yang pernah dialami oleh orang tua semasa kecilnya atau disebabkan oleh perasaan bersalah karena tidak sempat mengurusi anak kerana kesibukan-kesibukannya yang overaktif sehingga selalu memenuhi segala permintaan anak akan barang-barang yang mewah dengan harapan agar anak menjadi terhibur dan ikut merasakan kasih sayang orang tuanya. Tetapi dengan tindakan overproteksi itu anak menjadi korban kesalahan pendidikan dan mengakibatkan anak tidak mampu mencapai kematangan pribadi, malas untuk mengurusi keperluan hidupnya sendiri, selalu tergantung pada orang lain, menjadi anak lemah mental atau weekling  dan tidak memiliki inisiatif diri atau harga diri. Karena tidak sanggup  mengahadapi kesulitan hidup, mereka banyak mengalami konflik batin yang serius. Tindakan mereka cenderung sewenang-wenang, memaksakan kehendak dan kemauannya, egoistik atau selfis dan tindakan-tindakan yang tidak wajar lainnya yang sering bertentangan dengan norma susila dan hukum

4.  Materialistik dan mengabaikan nilai-nilai agama

Bagi orang tua yang sudah terjangkiti virus materialisme  maka akan mengakibatkan bentuk komunikasi dan perhatian terhadap anak-anaknya berubah menjadi komunikasi yang bersifat materialistik seperti : mudah memberikan barang-barang mahal, selalu memenuhi permintaan anak dan sebagainya.
Akan semakin parah akibatnya bila seorang suami memperlakukan istrinya sebatas komunikasi dan pemenuhan kebutuhan yang bersifat materialistik. Apabila suatu keluarga terjebak dalam kondisi seperti ini maka akan semakin membuka peluang bagi anggota keluarga (khusunya anak remajanya) untuk tidak betah dirumah dan mencari orang lain yang dapat diajak bicara, atau menerima kegundahan hatinya sekaligus mau memberikan perhatian dalam bentuk kasih sayang dan kepuasan batin lainnya. Akan sangat beresiko bila mereka akhirnya menyandarkan kegundahan hatinya pada orang lain yang kurang bertanggung jawab atau akan mencari pelarian pada obat-obatan terlarang dan minuman keras. Fakta menunjukkan bahwa mayoritas anak remaja yang tersesat kedunia minuman keras, narkotik dan obat-obatan terlarang adalah anak dari orang tua yang jadi teladan
E dukasi bukan sekedar pengajaran
L ingkungan religius diciptakan
A nak didik didewasakan
D ekatkan hati siswa, guru dan orang tua
A plikasikan ilmu dalam kehidupan
N eed for Achievement ditumbuhkan

3.  Teknik “AKURLAH” dalam Keluarga (orang tua)

A gama menjadi sesuatu uang hidup dan dihayati
K omunikasi yang sehat dibiasakan
U payakan memiliki waktu bersama dan kebersamaan
R iang hati dan selalu membahagiakan
L apang dada dan sabar menghadapi persoalan dan perbedaan
A nak dan orang tua saling menghargai dan menyayangi
H idup selamat dunia kahirat menjadi tujuan

4.  Teknik “BERIBADAH” dalam Masyarakat

B udaya malu dihidupkan
E tika dipelihara dalam seluruh praktek bermasyarakat
R ukun dan damai terus dipelihara
I badah ritual dan ibadah sosial dilakukan
B udaya permisive dan pornografi ditiadakan
A gama harus dipahami dan diamalkan, bukan hanya dibicarakan
D ialog dibudayakan dan kekerasan dihindari
A lkohol, Narkoba dan perjudian harus diperangi
H ukum ditegakkan secara adil untuk semua orang

Berbagai metode, teknik dan keempat upaya solusi bagi ABG (remaja) bermasalah tersebut bukanlah suatu teori yang tinggi di langit dan hanya berupa tulisan di buku, bukan tulisan para ahli, tetapi sesungguhnya sudah ada dan sudah dilakukan oleh sebagian remaja, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Namun empat hal tersebut baru dilakukan oleh kekuatan yang kecil, belum menjadi sebuah gerakan bersama yang bersinergi dalam suatu

jaringan yang sungguh-sungguh.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: